
Jumat, 21 Agustus 2026
Punya uang, belanja. Merasa stres, belanja. Lagi ada promo, belanja. Setelah itu muncul penyesalan karena saldo rekening mulai menipis.
Siklus seperti ini mungkin terdengar familiar bagi banyak orang. Belakangan, kebiasaan menghabiskan uang untuk mendapatkan rasa senang sesaat dikenal dengan istilah doomspending.
Fenomena ini banyak dikaitkan dengan generasi muda, termasuk Gen Z yang tumbuh di tengah biaya hidup yang semakin tinggi, kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil, media sosial yang penuh tren konsumsi, serta akses belanja yang kini bisa dilakukan hanya dalam beberapa klik.
Masalahnya, doomspending tidak selalu terlihat seperti perilaku belanja besar-besaran. Kadang bentuknya justru kecil dan terasa wajar. Membeli kopi setiap hari, checkout barang karena diskon, mengikuti tren baru, membeli makanan karena sedang bad mood, atau menggunakan layanan pay later untuk sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Satu transaksi mungkin tidak terasa berat. Namun ketika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat membuat uang sulit bertahan hingga akhir bulan dan target menabung semakin jauh.
Secara sederhana, doomspending adalah kebiasaan mengeluarkan uang secara berlebihan atau impulsif sebagai respons terhadap rasa pesimis, stres, atau ketidakpastian mengenai masa depan.
Istilah ini menggambarkan pola pikir yang kurang lebih seperti, kalau masa depan terasa sulit diprediksi, kenapa tidak menikmati uang sekarang saja?
Seseorang yang melakukan doomspending belum tentu tidak memahami pentingnya menabung. Justru, banyak orang tetap memiliki keinginan untuk membeli rumah, memiliki dana darurat, berinvestasi, atau mencapai kebebasan finansial.
Namun, ketika tujuan tersebut terasa terlalu jauh, sementara kebutuhan hidup terus berjalan, kepuasan yang bisa didapatkan hari ini menjadi lebih menarik.
Membeli sesuatu memberikan rasa senang secara langsung. Sebaliknya, menabung membutuhkan waktu dan hasilnya belum tentu langsung terlihat.
Di situlah salah satu daya tarik doomspending muncul.
Berdasarkan survei Frich terhadap komunitas pengguna Gen Z, sebanyak 47 persen responden dilaporkan belum memiliki dana darurat. Sementara itu, laporan Bankrate yang disebutkan dalam sumber artikel menunjukkan bahwa sebagian Gen Z memiliki jumlah utang yang lebih besar daripada nilai tabungan mereka.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan keuangan anak muda tidak selalu sesederhana "tidak mau menabung".
Banyak orang sedang menghadapi dilema yang cukup rumit.
Uang yang dimiliki harus dibagi untuk kebutuhan sehari-hari, tempat tinggal, transportasi, makanan, cicilan, hingga keinginan untuk tetap menikmati hidup. Di sisi lain, mereka juga dihadapkan pada target besar seperti membeli rumah atau mempersiapkan masa depan.
Ketika harga kebutuhan terus terasa meningkat, menabung dalam jumlah besar bisa terasa sulit.
Akhirnya, muncul pemikiran bahwa uang yang sedikit itu lebih baik digunakan untuk menikmati sesuatu sekarang daripada disimpan untuk tujuan yang terasa masih sangat jauh.
Inilah yang membuat doomspending menarik untuk dibahas. Fenomena ini bukan hanya soal kebiasaan belanja, tetapi juga berkaitan dengan cara seseorang memandang masa depan.
Dulu, seseorang harus datang ke toko untuk membeli sesuatu. Sekarang, belanja bisa dilakukan dari tempat tidur.
Media sosial membuat batas antara hiburan, konten, dan aktivitas belanja semakin tipis.
Saat membuka TikTok atau Instagram, seseorang bisa menemukan rekomendasi skincare, pakaian, gadget, makanan, tempat nongkrong, hingga barang yang sebelumnya bahkan tidak pernah masuk daftar kebutuhan.
Algoritma kemudian terus menampilkan konten serupa.
Belum lagi promo terbatas, diskon kilat, gratis ongkir, voucher, dan berbagai fasilitas pembayaran yang membuat sebuah barang terlihat lebih terjangkau daripada harga sebenarnya.
Kalimat seperti "mumpung diskon", "cuma sekali", atau "self-reward setelah kerja keras" akhirnya menjadi pembenaran untuk melakukan pembelian.
Tidak ada yang salah dengan membeli sesuatu untuk diri sendiri. Masalah mulai muncul ketika belanja menjadi satu-satunya cara untuk mengatasi stres atau ketika keputusan membeli dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan.
Belanja dapat memberikan rasa senang, setidaknya untuk sementara.
Paket datang, barang dibuka, sesuatu yang diinginkan akhirnya dimiliki. Ada kepuasan yang muncul dalam proses tersebut.
Namun, rasa senang itu bisa cepat hilang.
Setelahnya, muncul tagihan, saldo rekening berkurang, atau kesadaran bahwa barang tersebut sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Kemudian datang stres baru karena kondisi keuangan.
Untuk menghilangkan stres, seseorang kembali mencari kesenangan. Salah satunya dengan berbelanja lagi.
Jika tidak disadari, pola ini dapat berubah menjadi lingkaran:
Stres → belanja → senang sesaat → uang berkurang → stres lagi → belanja lagi.
Karena itu, memahami alasan di balik kebiasaan belanja terkadang sama pentingnya dengan mencatat nominal pengeluaran.
Sebelum checkout, ada baiknya bertanya: Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau hanya sedang mencari cara untuk merasa lebih baik?
Menariknya, kondisi keuangan yang sulit bukan berarti generasi muda tidak memiliki tujuan.
Dalam survei Frich yang disebutkan dalam sumber artikel, lebih dari 20 persen responden Gen Z memiliki target untuk menabung demi membeli rumah pertama.
Artinya, keinginan untuk memiliki masa depan finansial yang lebih baik tetap ada.
Tantangannya adalah jarak antara keinginan dan kenyataan.
Membeli rumah membutuhkan uang dalam jumlah besar. Membangun dana darurat membutuhkan konsistensi. Berinvestasi juga memerlukan uang yang bisa disisihkan.
Sementara itu, kebutuhan hidup harus tetap dibayar setiap bulan.
Ketika target jangka panjang terasa sulit dicapai, sebagian orang bisa kehilangan motivasi untuk memulainya. Menabung Rp100 ribu mungkin terasa tidak berarti ketika harga rumah yang diinginkan mencapai ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah.
Padahal, justru di tengah kondisi seperti inilah kebiasaan kecil menjadi penting.
Bukan karena nominal kecil akan langsung menyelesaikan seluruh masalah keuangan, tetapi karena kebiasaan tersebut membantu seseorang membangun kontrol terhadap uangnya.
Dana darurat sering kali baru terasa penting ketika keadaan darurat benar-benar datang.
Kehilangan pekerjaan, kendaraan rusak, kebutuhan keluarga mendadak, atau masalah lainnya dapat membuat kondisi keuangan berubah dalam waktu singkat.
Berdasarkan riset yang disebutkan dalam sumber artikel, ketika menghadapi masalah keuangan mendadak, sebagian responden Gen Z memilih meminta bantuan keluarga, sementara sebagian lainnya memilih mengambil utang baru.
Meminta bantuan keluarga tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, jika seseorang selalu tidak memiliki pilihan selain meminjam ketika terjadi masalah, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memiliki cadangan keuangan pribadi.
Dana darurat pada dasarnya memberikan ruang untuk bernapas ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.
Karena itu, membangun dana darurat tidak harus menunggu penghasilan menjadi sangat besar.
Yang lebih penting adalah mulai menciptakan kebiasaan menyisihkan uang secara konsisten.
Mengatasi doomspending bukan berarti berhenti menikmati hidup atau tidak boleh membeli sesuatu yang diinginkan.
Tujuannya adalah membuat keputusan belanja lebih sadar.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba antara lain:
Tidak semua barang harus langsung dibeli saat itu juga.
Coba masukkan barang ke keranjang dan tunggu selama satu atau dua hari. Jika setelah itu barang tersebut masih terasa penting dan memang sesuai kemampuan keuangan, barulah pertimbangkan untuk membeli.
Jeda kecil dapat membantu membedakan antara keinginan sesaat dan kebutuhan yang sebenarnya.
Menunggu sisa uang di akhir bulan untuk ditabung sering kali tidak efektif.
Begitu menerima penghasilan, sisihkan sebagian untuk tabungan terlebih dahulu. Nominalnya tidak harus besar.
Jika kondisi keuangan masih terbatas, mulailah dari angka yang realistis dan bisa dilakukan secara konsisten.
Fasilitas cicilan dan buy now, pay later memang mempermudah transaksi.
Namun, kemudahan tersebut tidak berarti kemampuan finansial bertambah.
Sebelum menggunakan cicilan, hitung total kewajiban yang harus dibayar dan pastikan pengeluaran tersebut tidak mengganggu kebutuhan penting lainnya.
Setiap orang memiliki pemicu yang berbeda.
Ada yang mudah belanja ketika stres. Ada yang sulit menolak diskon. Ada pula yang merasa harus membeli sesuatu setelah melihat orang lain memilikinya di media sosial.
Mengetahui pemicu pribadi dapat membantu mengurangi keputusan impulsif.
Mengatur keuangan terlalu ketat juga bisa membuat seseorang merasa tertekan.
Tidak ada salahnya menyediakan anggaran khusus untuk hiburan atau self-reward. Dengan begitu, keinginan untuk menikmati uang tetap memiliki tempat tanpa harus mengganggu tabungan dan kebutuhan utama.
Salah satu kesalahan ketika membahas keuangan adalah menganggap semua orang harus langsung memiliki dana darurat besar, investasi yang beragam, dan anggaran yang sempurna.
Kenyataannya, kondisi keuangan setiap orang berbeda.
Ada yang baru mulai bekerja. Ada yang memiliki tanggungan keluarga. Ada yang masih membayar utang. Ada pula yang memang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, langkah pertama tidak harus sempurna.
Mungkin hari ini belum bisa menabung dalam jumlah besar. Mungkin dana darurat masih jauh dari target. Mungkin masih ada kebiasaan belanja impulsif yang belum sepenuhnya hilang.
Tidak masalah.
Yang penting adalah mulai memahami ke mana uang pergi dan mengurangi kebiasaan yang membuat kondisi keuangan semakin sulit.
Mudah untuk mengatakan bahwa seseorang yang sulit menabung hanya kurang disiplin.
Namun, fenomena doomspending menunjukkan persoalan yang lebih kompleks. Tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, biaya hidup, media sosial, dan akses belanja yang semakin mudah semuanya dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam menggunakan uang.
Meski begitu, kondisi ekonomi yang sulit bukan berarti kita harus menyerahkan seluruh kendali kepada kebiasaan belanja impulsif.
Tidak semua hal bisa dikendalikan, termasuk kondisi ekonomi global atau kenaikan harga kebutuhan. Namun, keputusan kecil tentang bagaimana kita menggunakan uang masih bisa mulai diperbaiki.
Menabung mungkin tidak langsung membuat seseorang merasa senang seperti membeli barang baru. Hasilnya juga tidak selalu terlihat dalam semalam.
Tetapi memiliki uang cadangan saat keadaan tidak terduga datang bisa memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: pilihan dan rasa aman.
Di tengah tren doomspending dan godaan untuk menikmati semuanya sekarang, mungkin kemampuan finansial yang paling penting bukan sekadar seberapa besar penghasilan kita.
Melainkan seberapa baik kita tetap bisa mengambil keputusan ketika emosi, tren, dan ketidakpastian datang secara bersamaan.
Jumat, 21 Agustus 2026 | 19 Views
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 41 Views
Minggu, 09 Agustus 2026 | 37 Views
Sabtu, 08 Agustus 2026 | 66 Views
Minggu, 02 Agustus 2026 | 41 Views